sharing! :)

Saturday, August 4, 2012

BAHAYA LIMBAH DETERJEN TERHADAP LINGKUNGAN DAN KESEHATAN


BAHAYA LIMBAH DETERJEN TERHADAP LINGKUNGAN DAN KESEHATAN
Oleh:
Kristin Agustina P
Pendidikan  Kimia

Abstrak
Mencuci merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Deterjen merupakan bahan yang pencuci yang populer di Indonesia. Deterjen mengandung bahan-bahan penyusun yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Bahan-bahan penyusun dari deterjen adalah surfaktan, builder, filler, dan aditif. Bahan-bahan penyusun deterjen tersebut memiliki dampak bagi pencemaran lingkungan. Salah satu dampak dari pencemaran lingkungan adalah terjadinya eutrofikasi. Eutrofikasi mengakibatkan terganggunya rantai makanan yang dapat menyebabkan limbah deterjen masuk ke dalam tubuh manusia. Senyawa sisa limbah deterjen yang menumpuk di dalam tubuh dapat menyebabkan kanker. Iritasi juga dapat timbul akibat penggunaan deterjen. Oleh karena itu, konsumen diharapkan mencermati kandungan yang terdapat dalam deterjen sebelum membeli produk dan memilih deterjen yang ramah lingkungan.

Kata kunci: deterjen, penyusun deterjen, pencemaran lingkungan, kesehatan

A.      Pendahuluan
Deterjen merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi setiap rumah tangga di Indonesia. Mencuci dengan menggunakan deterjen merupakan salah satu hal lazim yang dilakukan oleh ibu rumah tangga. Harga deterjen yang dijual di pasaran pun bervariasi, mulai dari ukuran kecil dengan harga ribuan rupiah sampai yang berukuran satu kilogram dengan harga puluhan ribu rupiah. Di Indonesia pun terdapat berbagai macam jenis deterjen yang dijual di pasaran. Deterjen dapat dengan mudah ditemui di warung-warung kecil, pasar tradisional, minimarket, maupun di supermarket.
Persaingan produk deterjen pun terjadi dewasa ini. Produsen mempromosikan produk buatan mereka dengan berbagai macam cara, antara lain dengan memberi hadiah berupa piring, gelas, ataupun produk deterjen mereka dalam kemasan kecil. Promosi lainnya biasanya berupa penambahan bahan pewangi, pelembut, zat aditif, pemutih, dan lain-lain. Produsen juga mempromosikan produknya yang memberikan busa yang melimpah. Persepsi penduduk Indonesia saat ini adalah busa yang melimpah akan menghilangkan kotoran yang ada di pakaian dengan cepat. Namun persepsi ini sebenarnya salah, busa yang melimpah bukan jaminan akan kebersihan pakaian yang dicuci. Sebaliknya busa deterjen ini akan menjadi limbah yang sulit diuraikan oleh bakteri.
Limbah yang tidak terurai dengan baik akan menjadi suatu permasalahan bagi lingkungan. Butuh waktu yang lama agar senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam limbah deterjen dapat terurai secara alami oleh bakteri. Oleh karena itu, artikel ini diharapkan dapat membuka wawasan masyarakat akan dampak dari limbah deterjen terhadap lingkungan dan kesehatan. Masyarakat diharapkan dapat memilih deterjen yang ramah lingkungan serta tidak mengganggu ekosistem yang ada di alam dengan mengetahui dampak limbah deterjen terhadap lingkungan dan kesehatan.

B.       Pembahasan
Deterjen merupakan salah satu produk industri yang biasa digunakan di dalam kehidupan manusia. Salah satu manfaat dari deterjen adalah untuk melindungi kebersihan dan kesehatan manusia. Deterjen biasanya digunakan dalam industri maupun rumah tangga sebagai bahan pencuci atau pembersih. Dalam rumah tangga khususnya digunakan untuk mencuci pakaian.
Deterjen dalam arti luas menurut Srikandi Fardiaz (1992:66) adalah bahan yang digunakan sebagai pembersih, termasuk sabun pencuci piring alkali dan cairan pembersih. Definisi yang lebih spesifik dari deterjen adalah bahan pembersih yang mengandung senyawa petrokimia atau surfaktan sintetik lainnya. Deterjen merupakan bahan yang mengandung senyawa petrokimia karena terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi.
http://3.bp.blogspot.com/_uoyHxNBifK0/TMKXel6os8I/AAAAAAAAAEU/PTCa-rz31dk/s1600/gbr7.jpg
Gambar 1. Reaksi pembuatan deterjen
Deterjen berfungsi sebagai penghilang kotoran berupa minyak yang serupa dengan sabun, yaitu dengan cara  mengemulsi lemak, minyak atau gemuk (grease), tetapi deterjen tidak menyebabkan gumpalan seperti pada sabun (Hiasinta A. Purnawijayanti, 2001: 22). Mengemulsikan lemak yang dimaksud dalam hal ini adalah membuat fasa lemak menjadi emulsi sehingga lemak mudah terlepas dari pakaian. Fungsi lain dari deterjen menurut Cichy dalam buku Hiasinta A. Purnawijayanti (2001:22) adalah sebagai berikut:
1.      Mendispersi (memecah) kotoran dan merubah fasanya menjadi suspensi  dalam larutan.
2.      Melarutkan padatan dan mengemulsikan cemaran minyak sehingga mudah dihilangkan.
3.      Mensuspensikan kotoran yang tidak larut ke dalam larutan dan mencegah kotoran menempel kembali pada permukaan pakaian.
4.      Membuat efektivitas air sebagai pelarut meningkat sehingga kotoran mudah larut dalam air.
Deterjen pada umumnya mengandung surfaktan. Surfaktan dalam deterjen berfungsi sebagai bahan pembasah yang menyebabkan turunnya tegangan permukaan air. Dengan menurunnya tegangan permukaan air maka air lebih mudah meresap ke dalam pakaian yang dicuci. Surfaktan (surface active agents) atau bahan pembasah (wetting agents) merupakan bahan organik yang berperan sebagai bahan aktif pada deterjen, sabun, dan shampoo (Hefni Effendi, 2003:217). Selain itu molekul-molekul surfaktan membentuk ikatan-ikatan di antara partikel kotoran dan air. Keadaan ini terjadi karena molekul surfaktan bersifat bipolar, di mana salah satu ujungnya bersifat nonpolar dan larut dalam kotoran, sedangkan ujung yang lainnya bermuatan dan larut di dalam air. Oleh karena itu, partikel kotoran yang menempel pada pakaian terlepas dan mengapung atau terlarut dalam air. Surfaktan yang paling umum digunakan adalah alkil sulfonat linier (ASL) dan salah satu contohnya adalah dodesilbenzensulfonat dengan rumus struktur sebagai berikut:
picture212.jpg
Gambar 2. Dodesilbenzensulfonat
Surfaktan dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu surfaktan anionik, surfaktan kationik, surfaktan nonionik, dan surfaktan amphoteric (zwitterionic). Contoh-contoh dari beberapa surfaktan adalah sebagai berikut:
Surfaktan Anionik
Surfaktan Kationik
Surfaktan Nonionik
Surfaktan Amfoterik
1.    Natrium linier alkil benzene sulfonat
2.    Linier alkilbenzene sulfonat
3.    Petroleum sulphonate
4.    Natrium lauril eter sulfonat
5.    Alkil sulfat
6.    Alkohol sulfat
1.     Stearalkonium klorida
2.     Benzakonium klorida
3.     Quaternarny ammonium compounds
4.     Senyawa amina
1.     Dodesil dimetil-amina
2.     Coco diethanolamide
3.     Alcohol ethoxy lates
4.     Alkohol linier primer
5.     Polimer
6.     Alcohol polyethoxylate
1.    Cocoampho carboxyglycinate
2.    Cocamidopropyl-betaine
3.    Asil etilena
4.    Betaines
5.    Imidazolin
Tabel 1. Contoh surfaktan
Jenis surfaktan yang biasa digunakan dalam deterjen adalah alkylbenzene sulphonate (ABS) yang bersifat resisten terhadap dekomposisi biologis. Hal ini bisa berarti jika ABS atau alkilbenzene sulfonat ini sukar diuraikan secara biologis oleh bakteri. Dewasa ini, surfaktan jenis ABS telah digantikan oleh linear alkyl sulphonate (LAS) yang dapat diuraikan oleh bakteri secara biologis (biodegradeble). LAS memiliki tingkat biodegradasi sebesar 90% sedangkan ABS hanya sebesar 50-60%. Surfaktan juga memiliki dampak negatif mengganggu transfer gas di dalam sel. Jika surfaktan bereaksi dengan sel dan membran sel maka surfaktan akan menganggu pertukaran gas yang berlangsung antar sel. Pertukaran oksigen yang tidak berlangsung dengan lancar akan mengakibatkan pertumbuhan sel terhambat. Surfaktan dapat menyebabkan permukaan kulit kasar, hilanganya kelembaban alami kulit, dan meningkatkan permeabilitas permukaan luar. Derajat keasaman (pH) deterjen yang tinggi akan menyebabkan tangan iritasi (panas, gatal, dan mengelupas).
Selain surfaktan deterjen juga mengandung builder (bahan pembentuk). Builder berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air. Contoh dari builder adalah Sodium tri poly phosphate (STPP), Nitril tri acetate (NTA), Ethylene diamine tetra acetate (EDTA), zeolit, dan  asam sitra. Air yang mengandung fosfat dapat menyebabkan keracunan apabila terminum oleh manusia. Menurut Damin Sumardjo (2008: 630), persenyawaan fosfat anorganik yang dipakai sebagai builder (bahan pengawet busa) ternyata dapat mencemari air seperti persenyawaan fosfat anorganik yang terdapat pada pupuk. Pencemaran ini membuat air disungai menjadi bau. Bau busuk ini berasal dari gas NH3 dan H2S yang berasal dari peruraian bakteri anaerob. Air sungai yang tercemar sulit dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Air sungai yang tercemar limbah deterjen berakibat buruk bagi flora dan fauna yang hidup di sungai. Ikan dan tumbuhan yang ada di sungai dapat mati karena ekosistem tempat hidup mereka tercemar. Zat yang terdapat dalam limbah deterjen dapat memacu pertumbuhan eceng gondok dan gulma air sehingga dapat mengakibatkan ledakan jumlah tanaman tersebut. Ledakan jumlah tanaman tersebut akan mengakibatkan pendangkalan dan menyumbat aliran air sungai. Tanaman yang menutupi permukaan air akan menghambat masuknya sinar matahari dan oksigen ke air. Hal ini akan berdampak pada kualitas air dan ikan-ikan menjadi sulit untuk bertahan hidup. Penelitian juga menunjukkan bahwa deterjen mempunyai pengaruh terhadap flora dan fauna yang hidup di sungai. Deterjen anionik bersifat lebih toksik terhadap udang air (Gammarus polex) dibandingkan dengan deterjen kationik atau nonionik. Sedangkan ikan lebih sensitif terhadap pengaruh deterjen nonionik atau deterjen kationik dibandingkan dengan deterjen anionik (Damin Sumardjo, 2008: 631).
Deterjen dapat membentuk banyak busa dalam air dan banyak jenis deterjen sukar sekali diuraikan oleh enzim-enzim bakteri pengurai sehingga akan tetap utuh dan berbusa. Limbah deterjen yang tidak dapat diurai dalam waktu yang singkat ini menyebabkan polusi udara karena baunya yang tidak sedap. Menurut Petra Widmer dan Heinz Frick (2007: 42), deterjen terurai dalam hitungan minggu hingga bulanan sedangkan persyaratan ekolabel memberikan jangka waktu peruraian limbah deterjen di lingkungan alam hanya dua hari. Selain itu deterjen dalam air buangan dapat meresap ke air tanah atau sumur-sumur di masyarakat. Air yang tercemar limbah deterjen tidak baik bagi kesehatan karena dapat menyebabkan kanker. Kanker ini diakibatkan oleh menumpuknya surfaktan di dalam tubuh manusia.
Bahan lain yang terkandung dalam deterjen adalah filler (pengisi). Filler adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contoh Sodium sulfat. Sedangkan aditif adalah bahan suplemen/tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna. Bahan aditif ini sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Aditif ditambahkan untuk komersialisasi produk/agar produk dapat menarik perhatian konsumen. Contoh dari aditif adalah enzim, boraks, Natrium klorida, Carboxy methyl cellulose (CMC). Sayangnya diantara zat-zat tersebut ada yang tak bisa dihancurkan oleh mikroorganisme sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan. Limbah detergen juga menyebabkan pencemaran tanah yang menurunkan kualitas kesuburan tanah yang mengakibatkan tanaman serta hidupan tanah termasuk cacing mati. Padahal cacing berfungsi untuk menguraikan limbah organik, non organik & menyuburkan tanah.

C.      Penutup
1.      Kesimpulan
Banyaknya jenis deterjen yang beredar di pasaran sebaiknya membuat konsumen lebih jeli dalam memilih produk deterjen yang ramah lingkungan. Limbah deterjen yang tidak mudah diuraikan oleh bakteri. Bakteri membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menguraikan limbah deterjen. Sisa limbah deterjen yang tidak terurai akan menyebabkan pencemaran air. Air yang tercemar biasanya berbau busuk dan tidak bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.
Penggunaan fosfat sebagai builder mengakibatkan terjadinya ledakan jumlah eceng gondok di perairan. Eceng gondok yang melimpah di perairan akan menyebabkan ekosistem terganggu. Ikan-ikan akan kekurangan oksigen sehingga ikan akan mati dan populasi ikan menurun. Limbah deterjen yang masuk ke rantai makanan akan masuk ke tubuh manusia. Surfaktan yang berasal dari limbah deterjen dapat menyebabkan kanker apabila menumpuk di dalam tubuh. Surfaktan yang terkandung dalam deterjen juga dapat menyebabkan iritasi kulit yang ditandai dengan rasa panas, gatal bahkan kulit mengelupas jika bersentuhan langsung. Dengan demikian konsumen deterjen diharapkan mencermati kandungan yang terdapat dalam deterjen sebelum membeli produk dan memilih deterjen yang ramah lingkungan.

D.      Daftar Pustaka
Damin Sumardjo. (2008). Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran. Jakarta: EGC.
Hefni Effendi. (2003). Telaah Kualitas Air, Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan. Yogyakarta: Kanisius.
Hiasinta A. Purnawijayanti. (2001). Sanitasi, Higine, dan Keselamatan Kerja dalam Penggolahan Makanan. Yogyakarta: Kanisius.
Srikandi Fardiaz. (1992). Polusi Air dan Udara. Yogyakarta: Kanisius.
Widmer, Petra & Frick, Heinz. (2007). Hak Konsumen dan Ekolabel. Yogyakarta: Kanisius.

1 comments:

© kristin's mind, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena